Skip to main content

Kebangkitan Yesus sebagai fondasi Apologetika Kristen

(1 Korintus 15:14, 17, 19, 32)

“Mengapa kita menjadi orang Kristen?” Jika pertanyaan seperti ini ditanyakan kepada kita, apa jawab kita? Apakah itu karena orang tua kita Kristen? Karena saya memiliki pengalaman perjumpaan dengan Tuhan? Karena hidup saya diubahkan oleh Yesus? Karena pokoknya saya percaya kalau Alkitab itu firman Allah?




Alasan-alasan ini tidak sepenuhnya keliru, tetapi jika kita bertanya lebih lanjut, kita akan melihat hal-hal ini tidaklah kuat. Bagaimana jika agama orang tuamu salah? Saya juga mengalami kedamaian ketika ada di Vihara, apakah berarti Tuhan kita sama? Memangnya perubahan hidup hanya ada di agama Kristen, kan banyak juga orang Kristen yang kacau hidupnya? Dari mana kamu tahu kalau Alkitab itu benar-benar firman Allah?


Jawaban yang seharusnya dapat kita pertanggungjawabkan adalah, “Saya menjadi Kristen karena kekristenan itu benar!” Benar di sini artinya sesuai dengan realitas, dapat dibuktikan, dan tentu saja relevan dengan kehidupan kita. Seorang filsuf non-kristen bernama Karl Popper pernah berargumen bahwa sebuah karakteristik sebuah sistem pemikiran yang sahih secara ilmiah dan yang benar adalah dapat dipalsukan (falsifiable) atau dapat diuji (testable), yang artinya dapat dibantah dengan bukti-bukti empiris. Hal ini disetujui oleh seorang ahli filsafat dan perbandingan agama, Craig Hazen, bahwa alasan terutama mengapa seseorang yang rasional layak mempertimbangkan agama Kristen sebagai sebuah kebenaran yang sejati adalah karena kekristenan merupakan satu-satunya ajaran yang dapat diuji! Dan memang benar, Alkitab sendiri dengan tegas mengklaim bahwa tanpa kebangkitan Yesus Kristus itu benar-benar terjadi dalam sejarah, seluruh kekristenan akan hancur lebur (1Kor. 15:14, 17, 19).

Artinya, kebangkitan Kristus merupakan sebuah fondasi yang terpenting di dalam apologetika Kristen, di mana jika Kristus tidak pernah bangkit, seluruh doktrin dan kekristenan menjadi sia-sia belaka. Itulah sebabnya, pesan utama dari jemaat Kristen mula-mula di dalam misi penginjilannya adalah kesaksian tentang kebangkitan Kristus (Kis. 2:32; 3:15; 5:30-32; 10:39-41; 13:29-31). Tanpa kebangkitan Kristus, kekristenan hanya merupakan sebuah berita kebohongan (hoax) yang sangat luar biasa. Dan tentu saja, tanpa kebangkitan, tidak akan ada atau perlu ada, apologetika Kristen!

Pernahkah kita memikirkan hal ini? Mengapa kekristenan itu benar? Jika kita tidak bisa yakin dan membuktikan bahwa Yesus Kristus telah bangkit dari kematian, jangan-jangan selama ini kita hidup dalam kebodohan?

Oleh sebab itu, nantikanlah beberapa renungan setelah ini yang akan secara khusus membahas bagaimana kita membuktikan bahwa Yesus Kristus benar-benar bangkit dalam sejarah!

Perenungan pribadi:
1. Mengapa kekristenan menjadi pilihan yang tepat di antara agama-agama yang ada di dunia?
2. Apakah kita tetap mau menjadi Kristen jika Yesus ternyata tidak pernah bangkit?

Referensi: 
· Gary Habermas & Michael Licona, The Case for the Resurrection of Jesus (Kebangkitan Yesus Dalam Gugatan), Literatur Perkantas, 2013.


Repost:
· Renungan Apologetika Indonesia IG: @apologetikaindonesia


Baca juga artikel:

Popular posts from this blog

Injil Barnabas, "Yesus bukan Mesias" Injil palsukah itu?